Mereka yang Terpinggirkan
Sore itu lalu lintas Pancoran nyaris tak terlihat. Lalu lalang kendaraan berbaur dengan suara klakson mobil dan sepeda motor seolah menjadi irama yang hampir setiap sore mengisi perempatan itu. Di sela rapatnya jalanan nampak dua anak perempuan memulai petualangannya.
Namanya Novi dan Rizky. Usianya belum lagi 15 tahun. Tiba sore mereka habiskan dengan bermain bersama gitar kecil yang menemani petualangan mereka. Seperti saat itu, mereka berdua memulainya di ruas jalanan yang membelah ibukota. Mengenakan kaos kasual dan celana pendek serta gitar coklat yang bergelayut di lengan Novi. Rizky pun seakan tak mau ketinggalan mode. Ia mengecat rambut pendekknya dengan warna kecoklatan. Mengamen adalah arena yang Novi kenal sejak usia kanak. Dunia yang dikenal Novi saat ia berumur 3 tahun. Demikian pula Rizky, mengamen sudah ia lakukan sejak dirinya baru berusia 9 bulan. Dalam gendongan ibunya Rizky mulai mempelajari irama lagu dan kata-kata.
“Emak saya kan waktu dulu jualan kolak, nasi. Saya ngamen di seberang. Ngamen ama anak-anak. Pernah pindah tempat di Melayu, Kuningan, Cawang Uki, stasiun, di Tokong, Pancoran lagi deh emang tempatnya di Pancoran,” tutur Novi yang kini tinggal bersama ayah dan ibu tirinya, bersama 3 orang kakak dan 2 adiknya di daerah Bukit Duri Jakarta Selatan.
Bagi Novi mengamen tak sekedar untuk bertemu dengan banyak teman. Kebutuhan makan dan jajan adiknya memaksa Novi bertualang di jalan. Termasuk biaya listrik di rumahnya juga terpanggul di pundak Novi bersama gitar coklatnya. “Kadang-kadang Novi -kalau ada duit- beli nasi sebungkusnya lima ribu. Nah Novi beli 2 bungkus. Novi berdua adik, bapak saya juga berdua ama adik yang kecil.”
Seperti sebuah kebetulan, Novi dan Rizky adalah dua orang teman yang bernasib hampir sama. Sama-sama ditinggal mati ibunya sejak kecil. Ayahnya pun sama-sama sudah menikah lagi. Kini Rizky tinggal bersama adik kandungnya di rumah bibinya di kawasan Prumpung, Jakarta Timur.
Rizky mengungkapkan, sejak ia dan adiknya tinggal dan menumpang di rumah bibinya tak jarang Rizky berbagi penghasilannya. “Kalau lagi ramai kadang-kadang 15 ribu kadang-kadang 20 ribu. Tapi kalau lagi sepi kadang-kadang 10 ribu buat dikasih bibi. Saya ngasih buat jajan adik aja. Sisanya saya celengin buat bayaran adik sekolah,” terangnya.
Ketika anak -anak usia sebayanya asik berlibur dan kembali masuk sekolah, tak demikian dengan Novi dan Rizky. Mereka justru sibuk di jalanan. Nyatanya mereka mengembara di jalan bukan sepenuhnya keinginan belaka. Ada banyak hal yang memaksa mereka putus sekolah. Sambil menerawang Rizky menuturkan keinginannya untuk kembali sekolah. “Pengen banget sekolah lagi soalnya ngelihat temen-temen kayaknya enak banget sekolah lagi. Saya sudah mau ngambil ijazah tapi -ini- bayar bukunya belum, 400 ribu. Soalnya nggak ada biayanya.” Terlebih ayahnya sebagai pekerja serabutan.
Nasib Novi pun tak jauh beda dengan Rizky. Menjelang kenaikan kelas 4 SD emak Novi harus menghadap Sang Khalik. Hal itu berdampak dalam kehidupan Novi. Timbul rasa malasnya untuk kembali ke sekolah. Keinginannya berubah. Novi hendak kembali sekolah. “Bu saya mau sekolah lagi,” pinta Novi kepada gurunya. Pihak sekolah memutuskan agar Novi menyerahkan buku raportnya. “Taunya -buku raport itu- udah ketetesan air jadinya udah hancur dibuang. Jadi kagak bisa sekolah lagi,” kenang Novi.
Perihal pendidikan, Indonesia memang punya catatan sebagai suatu Negeri yang memiliki budaya lebih mementingkan anak laki-laki daripada anak perempuan. Apalagi dalam keadaan miskin, pendidikan anak perempuan sering dikorbankan demi anak laki-laki. Pemerintah pun minim ide untuk memberikan pendidikan alternatif bagi anak-anak yang orangtuanya tidak mampu membiayai pendidikan, termasuk anak jalanan seperti Novi dan Rizky.
Angkutan kota, motor, bis, dan mobil saling berebut tempat di jalanan. Tak jarang suara bising klakson dan knalpot kendaraan mereka laksana menunjukkan tentang siapa yang lebih berkuasa di sana. Suaranya meraung. Lalu lintas padat. Asap knalpot terus mengepul bubuhkan rona hitam bagi angkasa. Dalam pekik riuh knalpot dan klakson, Novi dan Rizky menjalin waktu. Tak urung mereka harus berhadapan dengan petugas trantib (ketentraman dan ketertiban) sampai diangkut ke tempat penampungan di Kedoya. Mereka dianggap sebagai Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS).
Rizky mengakui jalanan mampu hadirkan banyak teman. Teman bermain atau hanya sekedar berbincang sambil menikmati cemilan. “Ceritanya kan saya lagi ngamen terus ada kantib. Saya lagi duduk, ditangkep gitu. Tiba-tiba langsung dibawa aja ke Kedoya. Ya sudah gitu kayak dipenjara. Dikasih makannya nasi kering, sama tempe tahu yang udah nggak enak, minumnya juga.
“Pernah Novi ketangkep 3 kali. Pertama, pas lagi ngamen. Saya kan berangkatnya sore. Ngamen berduaan. Trus Novi duduk tuh berduaan. Eh tahu-tahu udah diginiin: jreet, ikut saya,” ungkap Novi sambil menirukan saat bahunya ditarik olah trantib. “Ya udah Novi pasrah aja. Nangis,” tuturnya. Pertama, Novi melanjutkan, dibawa ke walikota dulu. Terus saya minta minum, ‘pak minta minum dong pak. Saya haus.’ ‘diem kamu,’ ucap Novi menirukan bentakan petugas trantib.
Meski petugas trantib seringkali mengintai dan menangkap mereka tak lantas mengurungkan kehendak Novi dan Rizky untuk kembali bermain dengan gitarnya. Mengamen demi bertemu dengan banyak teman. Mengamen untuk memenuhi biaya hidup mereka sendiri bahkan membantu menopang kesejahteraan keluarga.
Paling dia (petugas trantib-red), Novi mengatakan, cuma minta surat RT/RW doang. “Tapi kalau emang kita minta damai. Kita kasih uang rokok atau uang apa gitu. Kadang-kadang Rp 10.000 sampai Rp 15.000,” jelas Novi.
“Sekarang udah capek kalau ketangkep kantib. Makanya jangan sampai lagi deh. Tidur kayak tempat duduk. Kagak ada selimut, kagak ada bantal. Jadi kayak penjara gitu, mbak,” rutuk Rizky.
Jalanan memang bukan istana dongeng dalam mimpi Novi dan Rizky. Ia seringkali menjadi ruang yang tak bersahabat dengan perempuan, termasuk pelecehan.
“Ada sih temen saya, perempuan. Kan dia pulang naik ojek. Dia bilang dia diculik ama tukang ojek terus dibawa kabur. Terus dia mau diperkosa ama tukang ojek itu. Terus akhirnya disundut pipinya ama rokok. Terus dia kabur kecebur kali. Sampai ada ibu-ibu yang nemuin,” cerita Rizky tentang temannya.
Apakah Rizky pernah mendapat perlakuan seperti temannya? “Ya enggak, sayanya juga galak. Saya kan di sana paling cerewet. Paling galak,” kata Rizky.
Keinginan Rizky tak jauh beda dengan anak sebayanya. Rizky ingin menjadi artis. Ia pun menyampaikan hasratnya untuk ikut sebuah kontes pecarian bakat anak-anak di sebuah stasiun televisi.
“Novi pengen jadi artis nyanyi juga. Bapak udah tua, ya, mau nyenengin dulu. Kan belum pernah nyenengin orangtua,” papar Novi.
Bagi Novi, jalanan juga menautkan kenangan pada sosok emak yang tak lagi bisa ia temui. Novi mengisahkan kenangannya berebutan di lampu merah, berebutan didorong. “Saya kelindes ban terus saya dibawa naik mobil. Emak saya nggak pakai sendal. Saya digendong sama emak. Jalan kaki ngelewatin jembatan, banyak batu.”
Novi dan Rizky serta anak-anak yang bernasib serupa berhak untuk memimpikan masa depan. Mereka adalah anak-anak yang sudah selayaknya mendapatkan perlindungan dari Negara dan pemerintah, masyarakat serta orangtua dan keluarga. Termasuk Negara berkewajiban dan bertanggungjawab untuk menghormati, menjamin hak asasi setiap anak, pun memberikan dukungan sarana dan prasarana kepada mereka; anak-anak perkasa yang tumbuh, besar dan belajar di jalanan. (Dewi Setyarini & Nur Azizah)
